Pandemi COVID-19 tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga meninggalkan jejak mendalam pada kesejahteraan psikologisβterutama di kalangan mahasiswa. Di tengah transisi mendadak ke pembelajaran daring, isolasi sosial, ketidakpastian akademik, dan tekanan ekonomi keluarga, mahasiswa kesehatanβyang notabene dipersiapkan menjadi garda depan layanan kesehatanβjustru menjadi salah satu kelompok rentan mengalami gangguan mental. Studi ini bertujuan mengungkap dampak pandemi terhadap kesehatan mental mahasiswa kesehatan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Wakatobi (UMW) selama periode 2020β2023.
Metodologi Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan wawancara mendalam dan penyebaran kuesioner terstruktur kepada 127 responden dari Program Studi Ilmu Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, dan Farmasi di UMW. Instrumen pengukuran meliputi skala Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS-21) serta pertanyaan terbuka mengenai pengalaman belajar daring, dukungan sosial, dan strategi koping.
Temuan Utama
1. Prevalensi Gejala Psikologis yang Signifikan
Hasil menunjukkan bahwa:
68% mahasiswa melaporkan gejala stres sedang hingga berat,
54% mengalami kecemasan tingkat sedang atau parah,
41% menunjukkan indikasi depresi klinis ringan hingga sedang.
Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebelum pandemi, yang berkisar antara 20β30% untuk populasi mahasiswa (Kementerian Kesehatan RI, 2018).
2. Faktor Pemicu Utama
Beberapa faktor dominan yang dikaitkan dengan penurunan kesehatan mental antara lain:
Keterbatasan akses internet dan perangkat digital di wilayah kepulauan Wakatobi, menyebabkan keterlambatan tugas dan frustrasi akademik.
Minimnya interaksi sosial dengan teman sejawat dan dosen, sehingga mengurangi rasa dukungan emosional.
Tekanan ganda: sebagai calon tenaga kesehatan, mereka merasa harus βkuatβ, namun justru kurang memiliki ruang untuk mengekspresikan kerentanan pribadi.
Ketidakpastian karier, terutama terkait pelaksanaan praktik klinik dan ujian kompetensi profesi yang tertunda.
3. Strategi Koping dan Dukungan Sosial
Sebagian besar responden (72%) menyatakan bahwa dukungan keluarga dan komunitas lokal menjadi penyangga utama kesehatan mental mereka. Selain itu, aktivitas seperti sholat tahajud, membaca Al-Qurβan, berkebun, dan olahraga ringan di sekitar rumah dilaporkan efektif meredakan kecemasan. Namun, hanya 18% yang pernah mengakses layanan konseling psikologisβbaik secara daring maupun langsungβkarena stigma dan kurangnya informasi Slot.
Rekomendasi
Berdasarkan temuan ini, peneliti merekomendasikan:
Penguatan layanan konseling kampus dengan pendekatan berbasis budaya dan agama, termasuk pelatihan dosen sebagai first responder masalah mental.
Pengembangan modul kesehatan mental dalam kurikulum, khususnya untuk mahasiswa kesehatan, agar mereka tidak hanya melayani orang lain tetapi juga menjaga diri sendiri.
Kemitraan dengan puskesmas dan organisasi kemahasiswaan untuk kampanye anti-stigma dan deteksi dini gangguan mental.
Penyediaan kuota internet subsidi atau hotspot gratis di area kampus sebagai bentuk dukungan infrastruktur digital.
Penutup
Mahasiswa kesehatan bukan hanya calon tenaga profesionalβmereka juga manusia yang rentan terhadap tekanan psikososial. Pandemi telah membuka mata kita: sistem pendidikan tinggi harus lebih responsif terhadap dimensi kesehatan mental, bukan hanya akademik. Di tengah keterbatasan geografis dan sumber daya, UMW memiliki peluang unik untuk membangun model pendampingan mental yang berakar pada nilai-nilai lokal, keislaman, dan kearifan komunitas kepulauan.